Sunday, August 17, 2014

Asal Mula Kampung Doyo (Ayawi/Ui Uiyeware)

Diceritakan kembali oleh Siswanto
Nara Sumber Timotius Marweri (Ondoporo Waibu Iwa Iwa Yonokhong)

Suatu ketika di kampung Yonokhong hiduplah ondoporo Doibereeuw-Simereew. Ia menikah dengan dua orang perempuan. Istri pertama tidak diketahui namanya. Istri kedua ondoporo ini bernama Burapankamoi. Ondoporo Doibereeuw-Simereew memperoleh dua orang anak dari kedua istrinya. Masing-masing memberinya seorang anak laki-laki.
            Kedua anak ondoporo ini tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah dan perkasa. Kedua anak ondoporo ini sama-sama anak sulung dan hanya terpaut beberapa tahun saja umurnya. Putra ondoporo dari istri pertama lahir beberapa tahun lebih awal dari putra dari istri kedua ondoporo Doibereeuw-Simereew. Putra ondoporo dari istri pertama sejak awal sudah digadang-gadang kelak di kemudian hari untuk diangkat menjadi ondoporo mengantikan ondoporo Doibereeuw-Simereew yang sudah mulai lanjut usia. Sebagai kandidat ondoporo maka putra dari istri pertama ondoporo ini mendapat perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya dan juga dari abu afa.
            Perlakuan istimewa yang diberikan pada putra dari istri pertama ondoporo ini membuat iri putra dari istri kedua ondoporo yang bernama Ui. Ia juga anak sulung. Ia juga berhak mendapat perhatian dan berhak pula menjabat ondoporo di kemudian hari. Ayahnya telah berbuat tidak adil terhadap dirinya dan ibunya. Rasa iri dan dengki yang dimiliki oleh Ui membuat ia menjadi gelap mata. Ia merencanakan sebuah kudeta. Ia akan merebut tahta ke-ondoporo-an yang akan dilekatkan pada saudara tirinya yang bernama Wereeuw. Ia akan berusaha menggapai impiannya dengan uhasa yang berat. Jika perlu jalan kekerasan pun akan ditempuh untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ondoporo.
            Langkah awal ia akan menanyakan tentang kebijakan ayahnya yang memilih saudara tirinya untuk diangkat menjadi ondoporo.
            “Ayah, aku juga merupakan anak sulung. Aku juga memiliki kemampuan berperang dan berburu sama separti saudara tiriku. Tepapi, mengapa ayah memilih saudara tiriku untuk diangkat menjadi ondoporo?” Tanya Ui dengan perasaan kurang senang.
            “Kalian memang sama-sama anak sulung. Kalian memang memiliki kemampuan berperang dan berburu yang nyaris sama. Tetapi ketahuilah wahai Ui, aku menikah pertama kali dangan ibu saudara tirimu itu, dia pulalah yang telah mengandung terlebih dahulu dibandingkan dengan ibumu. Umur Wereeuw, saudara tirimu itu lebih tua beberapa tahu darimu. Maka saudara tirimu itulah yang layak untuk menggantikanku kelak.” kata ondoporo Doibereeuw-Simereew dengan suara yang berwibawa.
            ”Aku tidak peduli dengan semua penjelasan Ayah. Aku sebagai anak sulung menuntut hakku sebagai anak sulung. Jangan salahkan aku jika kelak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ui dengan marah.
            Ondoporo Doibereeuw-Simereew merasa sangat terpukul mendengar perkataan anak yang disayanginya itu. Namun, ia tetap berkeyakinan yang mantap bahwa putra dari istri pertamanyalah yang akan diangkat menjadi ondoporo.
            Ui kemudian berlari keluar dari rumah ayahnya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan melenyapkan ayahnya. Jika ayahnya sudah tidak ada maka rencananya untuk menjadi ondoporo tidak ada lagi yang menghalangi. Pada suatu malam Ui berhasil menyelinap ke rumah ayahnya dan berhasil membunuh ayahnya yang merupakan ondoporo Yonokhong. Setelah berhasil membunuh ayahnya ia segera bersembunyi dan melihat perkembangan dari tempat persembunyiannya.
            Keesokan harinya gemparlah seisi pulau Yonokhong mendapati ondoporo mereka telah meninggal dunia. Bukan meninggal karena sakit atau karena tua, tetapi meninggal karena dibunuh orang. Kerabat ondoporo segera berkumpul untuk membicarakan pembunuhan ini dan berusaha untuk mengungkap dalang dari semua mala petaka ini. Dari penyelidikan dan desas desus yang beredar maka terungkaplah sebuah nama. Ui. Ui adalah dalang pembunuhan ini. Maka dipimpin Wereeuw, sanak saudara ondoporo mencari Ui untuk menangkapnya. Ui harus dihukum seberat-beratnya.
            Perasaan Ui menjadi tidak karuan ketika dari tempat persembunyiannya ia melihat banyak orang sedang sibuk mondar-mandir sambil memanggil-manggil namanya.
            “Wah, gawat. Rencanaku gagal. Perbuatanku telah diketahui oleh Wereeuw. Mereka pasti akan menangkap dan menghukumku. Lebih baik aku segera pergi dari sini.” Kata Ui dengan perasaan takut.
            Ui segera menemui ibu dan pengikutnya. Ia menyampaikan berita bahwa perbuatannya telah diketahui oleh Wereeuw. Ia juga menceritakan bagaimana wereeuw dan pengikutnya sedang mencari-cari diri dan ibunya. Melalui pertemuan singkat, akhirnya Ui, ibu, dan pengikutnya pergi meninggalkan pulau Yonokhong ke arah utara. Tujuan mereka adalah daratan besar di bawah gunung Robongholo. Pelarian Ui dan pengikutnya telah diketahui oleh Wereeuw. Maka Wereeuw dan pengikutnya menghujani Ui dan pengikutnya dengan panah dari atas bukit Butouw Patouw. Ui dan pengikutnya tidak mau kalah, mereka juga membalas memanah ke   arah Wereeuw yang berada di atas bukit. Perang panah berlangsung lama dan menegangkan. Pertikaian ini berakhir dengan habisnya anak panah milik kedua kubu yang sedang bertikai.
            “Tidak usah dikejar. Biarkan mereka pergi. Ia juga saudaraku. Aku tidak ingin tejadi pertumpahan darah lagi.” kata Wereeuw.
            Ui dan pengikutnya merasa lega melihat Wereeuw tidak berusaha mengejar mereka. Setelah mendayung kurang lebih tiga jam Ui dan pengikutnya akhirnya tiba di sebuah tanjung yang bernama Warako. Ui memutuskan untuk menetap di tanjung ini. Di tempat ini Ui dan pengikutnya membangun perkampungan baru. Ui memulai hidup baru dengan menikahi lima orang istri. Di tanjung Warako ini Ui mendirikan kampung dengan nama  Ayawi yang juga disebut dengan nama Ui Uiyeware atau Doyo.

KISAH TENTANG MARGA ARWAKON


Dahulu kala marga Arwakon tinggal di Pulau Sandidori Kepulauan Padaido. Nenek moyang marga Arwakon berasal dari pulau Warakon, di Wasior Teluk Wondama. Ribuan tahun yang lalu mereka bermigrasi ke Kepulauan Padaido, tepatnya pulau Sandidori. Ada sebuah cerita yang menyebabkan mereka berpindah lagi ke Sofyaref atau Opiaref. Ketika itu ada seorang pemuda yang bernama Mariar. Ia merupakan salah satu pemuda bermarga Arwakon yang kuat dan perkasa. Ia pandai berburu dan menangkap ikan di laut menggunakan tombak ikan yang terbuat dari serat pohon Nibung yang kuat dan keras. Dalam bahasa biak tombak ikan ini dinamakan adun. Mariar dan keluarga besar Arwakon hidup serba berkecukupan. Alam menyediakan segalanya. Ketika mereka hendak makan sagu, di alam telah tersedia sagu yang berlimpah. Hendak makan ikan, laut dipenuhi dengan berbagai jenis ikan yang berlimpah.
            Suatu hari terdengar kabar dari pulau tetangga yaitu pulau Wundi bahwa Marga Rumakito mengadakan sasi sen terhadap anak gadisnya. sasi sen adalah suatu kegiatan untuk meminggit pemuda atau pemudi di sebuah rumah yang ditutup rapat. pemuda atau pemudi yang di-sasi sen tinggal di dalam rumah dan masih menggunakan selubung yang terbuat tikar pandan yang dibentuk seperti kotak berukuran dua kali dua meter persegi. Hal ini bertujuan agar orang yang di-sasi sen tidak dapat berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain dan sebaliknya orang lain tidak pula dapat berhubungan dengan orang yang di-sasi sen. Tak seorang pun boleh berhubungan dengan orang yang di-sasi sen. Mandi, makan, dan buang hajat semua dilakukan di tempat pelaksanaan sasi sen. Segala keperluan sehari-hari telah disediakan oleh kedua orang tuanya. Hanya ibunya saja yang boleh mengantar makanan pada pemuda atau pemudi yang di-sasi sen. Lama pelaksanaan sasi sen bergantung pada kesanggupan keluarga untuk membiayai anak yang di-sasi sen. Pada zaman itu rumah-rumah berada di atas laut berupa rumah panggung sehingga mandi dan buang hajat dapat dilakukan dengan mudah menggunakan air laut.
            Kabar tentang gadis Rumakito yang di-sasi sen terdengar pula hingga pulau Sandidori. Kabar yang terbawa angin tersebut terdengar pula sampai ke telinga pemuda yang bernama Mariar. Seketika itu pula terbersit dalam benak Mariar untuk melihat gadis Rumakito yang di-sasi sen. Gejolak muda Mariar menuntunnya untuk mendatangi rumah yang dijadkan tempat yang berada di seberang pulau Sandidori. Untuk mencapai pulau Wundi, Mariar menuggu malam dan saat terjadi air surut besar yang dalam bahasa Byak biasa disebut wampasi. Ketika terjadi wampasi air laut benar-benar surut. Air hanya mencapai batas mata kaki saja. Pulau Sandidori dan pulau Wundi yang terpisah pada saat air pasang kini bagaikan daratan yang menyatu. Dibantu oleh pekatnya malam dan air wampasi Mariar berhasil mendekati pulau Wundi. Setelah mencari-cari beberapa saat akhirnya Mariar menemukan rumah yang dijadikan tempat sasi sen gadis Rumakito. Mariar memanjat rumah itu dan masuk melalui atap rumah yang terbuat dari anyaman daun sagu. Gadis Rumakito sangat terkejut mengetahui bahwa ia telah kedatangan tamu yang tak diundang. Ia ingin menjerit agar kedua orang tuanya tahu bahwa ada orang yang masuk tempat sasi sen. Namun ia sadar bahwa ia sedang menjalani sasi sen tak seorang pun boleh tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Akhirnya ia pasrah menerima keadaan. Terlebih lagi ketika Mariar mencarkan jurus rayuan gombalnya. Jatuhlah gadis Rumakito tak berkutik lagi dalam pelukan Mariar.
Di keesokan paginya ibu gadis Rumakito datang untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk anak gadisnya yang tercinta. Ibunya memasukkan makanan dan minuman itu melalui celah yang sengaja dibuat untuk itu. Tugas mengantarkan makanan telah dilakukan, ia kemudian segara meninggalkan rumah tempat anak gadisnya di-sasi sen. Gadis Rumakito segera berbagi makanan itu dengan pemuda Mariar yang semalam telah mengunjunginya. Makanan dan minuman itu habis tandas disikat keduanya. Hari-hari berikutnya makanan yang diantar ibu gadis Rumakito selalu habis bersih. Hingga pada hari keempat ibunya mengantar makanan ibunya mulai curiga. Sebelumnya anak gadisnya tidak pernah menghabiskan makanan dan minuman yang dikirim. Namun kini semua makanan dan minuman yang dikirimnya habis. Pasti ada orang lain yang tinggal bersama anak gadisnya. Ibu gadis Rumakito tidak berani mengatakan hal ini pada siapapun. Aturan adat yang mengatur bahwa apapun yang terjadi padi orang yang di-sasi sen tidak boleh melihat atau menceritakan pada orang lain kecuali meninggal dunia.
Pepatah Jawa mengatakan bahwa witing tresno jalaran saka kulina dan hal ini terjadi pula pada gadis Rumakito dan Mariar. Beberapa bulan kemudian gadis Rumakito hamil. Perubahan fisik yang terjadi pada dirinya membuat ia panik. Perutnya yang awalnya rata kini mulai membuncit. Sebelumnya setiap bulan ia mendapatkan menstruasi kini sudah tidak lagi. Ia lalu mengatakan perubahan dirinya pada Mariar. Mariar tidak panik ia lalu meminta gadis pujaan hatinya untuk mengatakan pada ibunya esok untuk membawa duri pohon jeruk, arang, dan minyak kelapa. Selain itu ia juga meminta pada gadis Rumakito untuk menyimpan duri ikan Samandar yang tajam. Setelah semua bahan tersedia lalu Mariar menato seluruh tubuh gadis Rumakito menggunakan alat-alat yang telah dibawa ibu si gadis. Ia mulai menato kaki, badan, tangan, dan kepalanya. Setelah menato seluruh tubuhnya ia meminta gadis pujaan hatinya untuk menato tubuh serupa dengan tato yang ada di tubuh gadis Rumakito. Gadis Rumakito bertanya mengapa badan keduanya harus ditato. Mariar mengatakan bahwa dengan menato tubuh dengan corak yang sama maka orang akan tahu jika itu merupakan tanda bahwa telah ada orang yang tinggal bersamanya di tempat sasi sen.
Genap sudah Mariar dan gadis Rumakito tinggal bersama di tempat sasi sen. Esok pagi sasi sen akan dibuka dengan sebuah pesta adat yang sangat meriah. Pada malam sebelumnya Mariar telah meninggalkan rumah sasi sen. Ia berjanji akan datang lagi setelah pesta adat dilangsungkan. Enam bulan dalam rumah sasi sen telah membuat rupa dan bentuk badan Mariar dan gadis Rumakito berubah. Semula badan yang berkulit gelap kini berubah menjadi kuning langsat. Mariar berubah menjadi semakin tampan ditambah lagi dengan hiasan tato yang merata di sekujur badan. Hari penentuan untuk membuka sasi sen telah berlansung masyarakat Rumakito yang berada di pulau Wundi mengadakan pesta besar. Ketika rumah sasi sen dibuka, mereka sangat terkejut mendapati bahwa gadis yang di-sasi sen telah berbadan dua. Badan yang semula bersih kini penuh dengan ukiran tato yang indah. Pesta buka sasi sen dibatalkan. Tua-tua adat marga Rumakito marah besar mengetahui hal ini. Ia memerintahkan semua marga Rumakito tua muda besar kecil untuk mencari tahu siapa yang telah menodai acara adat ini.
Sementara itu, Mariar kembali ke Sandidori. Perubahan pada tubuhnya membuat orang terheran-heran. Ke mana saja ia selama ini. Mengapa tubuhnya kini menjadi lebih terang dan dipenuhi dengan tato. Masyarakat Arwakon mulai menduga-duga dan mencari tahu. Tato yang berada di tubuh Mariar ini pasti berhubungan dengan sesuatu. Jika tato pada tubuh Mariar sampai pada alat vitalnya, ini berbarti bahwa tato itu akan ada pasangannya pada alat vital perempuan yang dijadikan teman tidur. Untuk membuktikan ini para tua-tua adat lalu membuatlan cawat (manduwam) khusus dipakai pada acara munara wampasi untuk Mariar. Jika pada umumnya manduwam diikat dengan tali rotan yang kuat. Maka khusus untuk Mariar manduwam-nya diikat dengan tali  yang tebuat dari kulit pohon Anfa. Kulit kayu ini sebenarnya kuat jika dijadikan bahan membuat noken namun harus melalui proses yang panjang. Jika langsung dipakai maka tali yang terbuat dari kulit pohon Anfa mudah putus.
Pada air pasang ikan-ikan masuk dalam perangkap jaring yang terbuat dari serat akar pandan yang disebut mandin. Ketika air surut besar (wampasi) maka ikan-ikan akan terjaring dan tidak bisa keluar lagi. Jutaan ikan sudah terjaring dalam mandin. Masyarakat sudah bersiap-siap untuk ber-munara wampasi. Ikan yang paling digemari pada saat munara wampasi ialah ikan insrowen. Ikan ini dikenal dengan ikan yang sangat gesit dan kemampuan renang yang luar biasa cepat. Siapa saja berkeinginan untuk mendapatkan ini. Semua orang sudah berdiri mengelilingi mandin seolah-olah memagari ikan. Demikian pula dengan Mariar ia juga sudah siap dengan adun-nya. Dalam jutaan ikan itu nampaklah ikan insrowen yang sangat besar menggelapar-gelepar dengan gagahnya. Setelah mendapat aba-aba dari tua-tua adat semua orang siap untuk ber-munara wampasi. Masyarakat Arwakon lalu serentak memasuki arena munara wampasi ikan yang diincar adalah ikan insrowen yang memesona. Gerakan orang-orang menjadi tertahan ketika mereka melihat Mariar berlari mengejar ikan insrowen yang paling besar tadi. Seketika itu pula orang-orang menyingkir dan kembali ke pinggir untuk menyaksikan Mariar yang sedang beraksi. Mariar dengat kecepatan yang luar biasa mengejar ikan insrowen yang berenang di air dangkal di antara jutaaan ikan lainnya. Ketika ia sudah berada di jarak yang sangat dekat, ketika ia hendak mengayunkan adun-nya ke arah ikan insrowen di depan matanya. Seketika itu pula tali manduwam yang tebuat dari kulit kayu anfa putus. Tebukalah alat vital Mariar yang juga sudah bertato. Seketika itu pula semua orang berteriak.
            “Woo . . ., Mariar, Mariar. Itu dia Mariar yang telah mendatangi sasi sen gadis Rumakito dan menghamilinya.”
Kabar tentang terungkapnya kelakuan Mariar yang sedang ber-munara wampasi dengan cepat tersebar hingga pulau Wundi tempat marga Rumakito bermukim. Marga Rumakito segera mempersiapkan perang dengan marga Arwakon. Perahu-perahu besar, busur, dan anak panah telah disiap siagakan. Mereka segera menghubungi marga Arwakon untuk menyampaikan bahwa marga Rumakito menantang perang marga Arwakon. Keesokan harinya masyarakat Rumakito mengarahkan pasukan perangnya menuju suatu tempat yang diantara pulau Wundi dan pulau Sandidori. Pasukan perang Marga Rumakito berhenti pada suatu tempat yang bernama Nondeks. Demikian juga dengan pasukan perang marga Arwakon mereka juga menuju tempat pertempuran yang dinamakan Auksaks. Kedua tempat ini sangat tepat untuk berperang. Jarak bidik anak panah sudah sesuai dengan sasaran bidik. Setelah kedua belah pihak yang bermusuhan telah siap maka marga Rumakito melancarkan serangan terlebih dahulu. Ribuan anak panah dibidikkan ke arah marga Arwakon. Ada bebarapa marga Arwakon yang telah menjadi korban. Peperangan ini berlangsung hingga matahari naik beberapa tombak. Ketika marga Arwakon hendak membalas membidik ke arah marga Rumakito, cahaya matahari yang sudah naik beberapa tombak menghalangi pandangan mata mereka. Akhirnya perang dihentikan untuk beberapa saat. Ketika matahari sudah condong ke arah barat kini giliran marga Arwakon yang membidikkan ribuan anak panah ke arah marga Rumakito. Jatuh pula beberapa korban jiwa. Ketika warga Rumakito hendak membalas membidik silau matahari sore menghalangi pandangan mata mereka. Akhirnya pada sore hari perang dihentikan dan dilanjutkan esok hari. Masing-masing pihak menderita kerugian materi dan jiwa. Sebelum pulang ke pulau masing-masing, mereka mengumpulkan anak panak yang berhamburan di laut, perahu, dan bahkan yang menancap pada jasad korban peperangan. Jumlah anak panak itu ribuan. Keesokan harinya perang dilanjutkan. Kejadian perang berlangsung seperti hari sebelumnya. Begitu pula dengan perang di hari ketika. Akhirnya kedua belah pihak yang bertikai sepakat untuk menghentikan perang.
Perang telah usai, namun kejadian tidak berhenti sampai di sini. Masyarakat Rumakito kembali ke Wundi dan masyarakat Arwakon ke Sandidori. Setelah sampai Wundi masyarakat Rumakito memutuskan untuk pergi dan membubarkan diri. Perkampungan marga Rumakito di pulau Wundi bubar. Banyak di antara mereka pergi ke pulau Yapen. Perang ini menyebabkan janji Mariar pada gadis Rumakito tidak terlaksana. Perang menyebabkan penderitaan. Mariar kembali ke Sandidori. Sesampai di Sandidori terjadi lagi sebuah peristiwa yang menyebabkan persebaran marga yang tinggal di Sandidori. Ada seorang perempuan dari marga Rumbraibab bernama Abura menaruh hati pada Mariar dan keluarganya meminang Mariar. Mariar menolak pinangan ini. Penolakan Mariar membuat Abura patah hati dan memanjat pohon nimpa yang sangat tinggi. Ia ingin mengakhiri hidupnya karena cintanya telah ditolak Mariar. Keluarga Abura mengantisipasi tubuh yang jatuh dari atas pohon dengan menyiapkan tikar pandan yang disusun berlapis-lapis hingga tebalnya setinggi orang dewasa di sekitar pohon binpa. Ketika Abura melompat dan jatuh, ternyata tikar pandan tidak mampu menahan tubuh Abura yang meluncur deras dari atas pohon. Tubuh Abura terhempas keras menembus tikar pandan dan mengenai karang di bawah tikar. Abura tewas seketika. Setelah peristiwa ini warga Rumbraibab meninggalkan pulau Sandidori. Mereka menetap di sebuah tempat di kepulauan Yapen bernama Karawi. Ada juga yang menuju pulau Byak dan menetap di Sofyaref. Begitu pula dengan marga Arwakon mereka juga meninggalkan Sandidori. Mereka menetap di Sofyaref. Ketika mereka tiba di daratan pulau Byak mereka menjejakkan kaki dan mengatakan Sofyaref. Saya sudah menginjak tanah ini.
Lain lagi dengan Mariar, ia tidak tinggal di Sofyaref tetapi ia terus melanjutkan perjalanan menuju dataran pulau Byak yang berbukit-bukit. Di suatu tempat yang bernama Sepse, Mariar bertemu dengan marga Mandosa, marga Inggamer, marga Morin, dan marga Kafdir. Namun berdarsarkan perkembangan waktu marga Kafdir mulai punah di kampung Sofyaref. Di kampung Sepse ada sebuah tempat yang berawa dengan ditumbuhi banyak sekali pohon sagu. Mariar tinggal beberapa waktu di kampung Sepse. Lalu ia memutuskan untuk pulang ke Sofyaref dengan mengajak serta keempat marga itu. Di Sofyaref keempat marga ini tidak menemukan sagu yang banyak tumbuh di Sepse. Hal ini membuat hati dan perasaan mereka selalu teringat pada kampung halaman. Untuk mengobati kerinduan pada sagu dan kampung halaman keempat marga ini kembali ke Sepse untuk mengambil bibit sagu untuk ditanam di Sofyaref. Mereka mengira sagua dapat tumbuh di pantai seperti tumbuh di rawa-rawa kampung Sepse. Mereka lalu menanam sagu di pesisir pantai yang sedang wampasi. Ketika air pasang dan ombak datang semua tanaman sagu itu habis tergulung ombak. Oleh karena itu mereka menamakan tempat menanam sagu itu dengan suwanggara artinya laut tidak baik. Sejak saat itu mereka menamakan selat yang menghubungkan antara Sofyaref dengan pulau sandidori di Kepulauan Padaido dengan nama selat Suwanggara.
Demikianlah kisah tentang marga Arwakon. Sejak saat itu marga Arwakon menetap di kampung Sofyaref. Persebaran Marga Arwakon mulai dari Wasior, Kakur di Yapen, Pulau Numfor, Sowek Biak Barat, Pulau Sandidori di Kepulauan Padaido, dan Indoki di Manokwari.